Perkuat Mutu Kepengasuhan, AHIBS Kirim Tujuh Musyrif Ikuti Pelatihan Musyrif Profesional di Bogor
Komitmen Al-Hanif Islamic Boarding School (AHIBS) Cilegon-Banten, dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pembinaan santri terus diperkuat. Salah satu langkah nyata tersebut diwujudkan melalui keikutsertaan tujuh musyrif AHIBS dalam Pelatihan Musyrif Profesional yang diselenggarakan di Bogor pada Senin, 26 Oktober 2026.
Ketujuh musyrif AHIBS yang mengikuti kegiatan ini adalah Ustadz Khairul Anwar, Ustadz Riky Julparianto, Ustadz Ahmad Shofiullah, Ustadz Luthfan Abdurrahman, Ustadz Yusya Abdillah Al-Atsary, Ustadz Anjas Bagas Sugiarto, dan Ustadz Rangga.
Pelatihan ini diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Wafi Bogor melalui kolaborasi dengan KOPIN (Konsorsium Pendidikan Islam Internasional) dan Perhimpunan Al-Irsyad. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 300 peserta yang berasal dari sekitar 70 lembaga pendidikan Islam di berbagai wilayah Indonesia.
Keikutsertaan delegasi AHIBS dalam forum ini menjadi bagian dari upaya pengembangan Sumber Daya Manusia, khususnya dalam bidang kepengasuhan. Bagi AHIBS, peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup hanya dilakukan melalui pembelajaran di kelas. Proses pendampingan, pembinaan kedisiplinan, pembiasaan ibadah, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari juga memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian santri.
Musyrif Bukan Sekadar Pengawas, tetapi Pendidik dan Teladan
Salah satu pesan utama yang mengemuka dalam pelatihan ini adalah pentingnya memahami kembali hakikat musyrif sebagai murabbi dan uswah, yaitu pendidik sekaligus teladan bagi santri. Dalam kegiatan yang diawali dengan registrasi, pembukaan, dan tilawah Al-Qur’an tersebut, Ustadz Dr. Ali Saman Hasan, Lc., L.LM., M.A., menyampaikan sambutan sekaligus keynote speech mengenai hakikat musyrif sebagai teladan, pembina, dan pemimpin santri.
Materi tersebut menegaskan bahwa tugas musyrif tidak berhenti pada pengawasan kedisiplinan, pengaturan aktivitas harian, atau memastikan santri menaati tata tertib. Lebih dari itu, musyrif memiliki tanggung jawab mendidik, membangun karakter, menanamkan nilai-nilai Islam, serta mendampingi perkembangan santri secara menyeluruh.
Penguatan perspektif ini dilanjutkan oleh Ustadz Yusuf Utsman Baisa, Lc., melalui materi Fitrah Musyrif sebagai Murabbi dan Uswah. Materi tersebut mengajak peserta menjadikan keteladanan, karakter, dan integritas pribadi sebagai fondasi utama dalam menjalankan amanah kepengasuhan.
Bagi AHIBS, pemahaman tersebut relevan dengan upaya membangun lingkungan pendidikan berasrama yang tidak hanya tertib secara aturan, tetapi juga hidup dengan nilai-nilai Islam. Santri membutuhkan sosok pendamping yang mampu memberikan arahan, menunjukkan contoh nyata, dan membimbing mereka melalui interaksi sehari-hari.
Menguatkan Komunikasi, Kepemimpinan, dan Profesionalisme
Pelatihan kemudian berlanjut pada penguatan keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan komitmen musyrif profesional yang disampaikan oleh Ust. Kartiko Adi Pramono, Dipl. Ing, HTL, ACMC, M.Pd. Melalui ceramah interaktif dan studi kasus, peserta diajak memahami pentingnya komunikasi efektif, membangun kepercayaan, serta mengambil keputusan secara bijaksana dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan pesantren.
Kompetensi ini menjadi bekal penting bagi musyrif AHIBS yang berinteraksi langsung dengan santri dalam berbagai aspek kehidupan berasrama. Ketegasan dalam menegakkan aturan perlu berjalan seiring dengan kemampuan memahami persoalan, memberikan bimbingan, dan mengarahkan santri menuju perilaku yang lebih baik.
Dengan demikian, kedisiplinan tidak semata-mata dipahami sebagai kepatuhan terhadap tata tertib, tetapi juga sebagai proses pendidikan untuk menumbuhkan tanggung jawab, kemandirian, dan kesadaran diri.
Adaptif terhadap Teknologi, Tetap Mengutamakan Keteladanan
Aspek lain yang menjadi perhatian dalam pelatihan ini adalah digitalisasi kepengasuhan. Materi tersebut disampaikan oleh Ust. Taufik Abdurrahman, S.Pd., bersama Ust. Syafiq Ubaid, BA.
Peserta diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung administrasi, komunikasi, pemantauan, dan pengelolaan kegiatan kepengasuhan. Penggunaan teknologi diharapkan membantu pekerjaan musyrif menjadi lebih terstruktur, efektif, dan efisien.
Bagi lembaga pendidikan berasrama seperti AHIBS, pengelolaan informasi yang tertib dan koordinasi yang baik merupakan unsur pendukung penting dalam pelaksanaan program pembinaan santri. Namun, digitalisasi tetap harus ditempatkan sebagai sarana pendukung, bukan pengganti hubungan pendidikan antara musyrif dan santri.
Teknologi dapat membantu proses pencatatan dan pemantauan, tetapi kepedulian, komunikasi langsung, dan keteladanan tetap menjadi unsur utama dalam pengasuhan. Rangkaian kegiatan juga diisi dengan sesi informasi, refleksi, kuis, dan ice breaking yang dipandu oleh Zikra Juninawan, M.Ed., untuk membangun interaksi serta memperkuat pemahaman peserta terhadap materi pelatihan.
Menuju Musyrif Transformatif
Materi berikutnya disampaikan oleh Prof. Taufik Kasturi, S.Psi., M.Si., Ph.D., dengan tema Musyrif Transformatif. Materi ini menekankan bahwa musyrif perlu mengambil peran lebih jauh daripada sekadar memastikan kegiatan santri berjalan tertib. Musyrif diharapkan mampu mendorong perubahan positif dalam diri santri, membangun kesadaran diri, menumbuhkan kebiasaan baik, serta membimbing perkembangan karakter mereka.
Peran transformatif tersebut menuntut musyrif untuk terus belajar, meningkatkan kapasitas diri, dan memahami karakteristik santri yang didampingi. Ketegasan, kepedulian, keteladanan, serta kemampuan memberikan bimbingan sesuai kebutuhan santri perlu berjalan secara seimbang.
Perspektif ini memperkuat pemahaman bahwa kepengasuhan bukanlah kegiatan tambahan di luar proses pendidikan. Dalam sistem pendidikan berasrama, kepengasuhan justru menjadi salah satu ruang utama tempat nilai-nilai yang dipelajari santri diterapkan dalam kehidupan nyata.
Membawa Semangat Perbaikan ke Lingkungan AHIBS
Partisipasi lebih dari 300 peserta dari sekitar 70 lembaga pendidikan Islam menjadikan pelatihan ini sebagai ruang penguatan wawasan dan pengembangan kompetensi kepengasuhan. Keterlibatan berbagai lembaga juga menunjukkan pentingnya kerja sama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia pendidikan Islam.
Bagi AHIBS, keikutsertaan tujuh musyrif dalam kegiatan ini diharapkan menjadi bekal untuk memperkaya wawasan, memperkuat profesionalisme, dan mendorong perbaikan praktik kepengasuhan di lingkungan sekolah berasrama.
Pengembangan kompetensi musyrif perlu berlanjut melalui penerapan pengetahuan dalam pekerjaan sehari-hari, refleksi terhadap praktik pengasuhan, serta koordinasi yang baik di lingkungan lembaga. Dengan begitu, manfaat pelatihan tidak berhenti pada peserta yang hadir, tetapi dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas layanan pendidikan dan pembinaan santri.
Pada akhirnya, kualitas sebuah lembaga pendidikan berasrama tidak hanya tercermin dari capaian akademik santrinya, tetapi juga dari karakter, adab, kemandirian, dan kebiasaan baik yang tumbuh selama mereka menjalani pendidikan.
Melalui penguatan kapasitas musyrif secara berkelanjutan, AHIBS berkomitmen mengembangkan kepengasuhan yang profesional, terarah, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Sebab, musyrif yang profesional bukan sekadar mampu menjaga santri tetap tertib, melainkan juga mampu mendampingi mereka bertumbuh menjadi pribadi Muslim yang berilmu, berakhlak mulia, mandiri, dan bertanggung jawab.
AHIBS, menguatkan kepengasuhan, menumbuhkan karakter, menyiapkan generasi masa depan.